Hari Anti Korupsi Internasional

9 Desember 2009 pukul 9:13 PM | Ditulis dalam politik | 1 Komentar
Tag:

Tanggal 9 Desember ditetapkan sebagai hari anti korupsi internasional. Hal ini berdasarkan kesepakatan 133 negara dalam Konvensi Anti Korupsi PBB (United Nation Convention Againts Corruption) di Merida, Meksiko pada 9 Desember 2003 silam. Berdasarkan kesepatan itulah, hingga kini setiap 9 Desember masyarakat diberbagai penjuru dunia memperingatinya dengan cara yang beragam, tidak terkecuali di Indonesia.

Mencoba membuka kembali catatan sejarah, mari kita ingat kembali Reformasi 1998 yang berpretsasi dalam melengserkan Presiden Soeharto dan Rezim Orde Baru dari kekuasaannya. Bisa dibilang, Reformasi 1998 merupakan tonggak awal gerakan anti korupsi di Indonesia dalam skala besar. Bagaimana tidak, gerakan ini telah membuat Orde Baru yang disinyalir melakukan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam periode kekuasaanya selama 30 tahun lebih lengser dengan paksa.

Korupsi Telah Membudaya, Hentikan Membudayakan Korupsi

Untuk meruntuhkan sebuah budaya maka kita harus membedah terlebih dahulu budaya tersebut. Setidaknya, dalam budaya ada tiga wujud, diantaranya budaya dalam wujud ide (gagasan), budaya dalam wujud perilaku (tindakan) dan budaya dalam wujud benda (produk). Maka dari itu, 3 wujud ini terkait dengan budaya korupsi mesti ditelanjangi dan disikapi secara komprehensif. Misalnya, ide korupsi yang lahir dan diakibatkan dari mewabahnya kemiskinan ekonomi, moral dan spritual maka pengentasan kemiskinan multi dimensi inilah yang terlebih dahulu atau secara sejalan diatasi. Begitupun (perilaku) korupsi baik secara individu, berkelompok, diam-diam, secara terbuka dan sejenisnya pun perlu diputus mata rantainya. Terakhir, bukti-bukti temuan korupsi (produk) yang sudan ada mesti ditindak dan diproses secara hukum dengan tegas dan tanpa pandang bulu.
Korupsi sebagai budaya harus ditinggalkan. Sebagaimana sebuah kebudayaan akan runtuh ketika ditinggalkan oleh penganutnya. Maka menjaga diri pada hal-hal yang akan mengarah ke tindakan korupsi mesti dilakukan. Misalnya, kebiasaan oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bermain Facebook disaat jam kerja harus ditindak tegas. Perilaku-perilaku kecil inilah yang jika terus dipelihara maka akan membentuk mental korupsi dalam lingkup lebih luas. Karena, perilaku seperti itu harus disadari masuk dalam kategori korupsi waktu dan penyimpangan tugas. Begitupun dengan perilaku-perilaku lainnya yang bisa jadi kita lihat dilingkungan terdekat kita, atau bahkan kita alami dan perbuat sendiri.
Sadar atau tidak sadar, setiap saat dan kesempatan banyak perilaku korupsi dan KKN yang bisa kita temui. Setuju atau tidak setuju, korupsi minimal dalam skala kecil dekat dengan kita. Maka dari itu, ditangan kita semualah budaya korupsi itu bisa kita runtuhkan atau malah terus terpelihara!

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Di republik ini penyakit korupsi sepertinya sudah teramat sistemik menggerogoti sendi-sendi kehidupan. Obatnya cuma satu, penanganan kasus tindak korupsi harus dijalankan lebih radikal lagi, bila perlu berlakukan Hukuman Mati Buat Koruptor Di Negeri ini !!!!

    ……salam kenal ya ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: