Brilliant Legacy Episode 17

6 Februari 2010 pukul 10:34 AM | Ditulis dalam movie | Tinggalkan komentar
Tag:

Sun Woo Hwan dan Park Jun Se bersitegang di luar tempat karaoke
“Kamu biasanyatidak pernah peduli akan oran lain. Apa ini karena Eun Sung?. Ayo keluarkan yang ada dalam hatimu”, Jun Se panas. “Apa karena Eun Sung?!”, Junse mendesak terus.
Hwan memukul muka Jun Se
“Ya ini karena Go Eun Sung!”

Brilliant Legacy Episode 17

Seung Mi yang mendengarnya kaget dan terpukul.
“Kau ini selalu menganggu Eun Sung, selalu muncul dihadapanku, seolah-olah kamu orang yang paling peduli dengan orang lain”, Hwan menambahkan dengan kesal
“Apa kamu menyukai Eun Sung?!”, desak Jun Se
“Bagaimana aku bisa menyukai orang yang mengambil harta dan rumahku!”, kata hwan (gimana klo iya Hwan)

Seung Mi muncul pura-pura tidak mendengar apa-apa. Eun Sung menebak terjadi pertengkaran antara Hwan dan Jun Se. Mereka akhirnya pulang. Jun Se mengantar Eun Sung. Hwan dengan Seung Mi.
Eun SUng bertanya pada Jun Se tentang kejadian itu.
“Bertengkar biasa terjamdi antara laki-laki setelah minum. Aku khan laki-laki”, Jun Se menutupi
“Pasti Hwan marah gara-gara Jung adiknya ya”, tebak Eun Sung “Dia pasti marah sekali padamu. Padaku Hwan tidak sekeras itu”. Muka Jun Se masam.
(dipikir-pikir Hwan ga pernah marah lagi sama Eun Sung. Eun Sung juga pernah bilang sama Hyeri, walau mereka sering berantem tapi dia sekarang ga bisa benci sama Hwan)

Eun Sung sampai di rumah nenek memuji Eun Sung karena acaranya sukses. Hwan datang, tapi nenek dan cucu ini sama-sama jaim. Eun Sung menasehati Hwan agar besok kakinya tidak pegal-pegal dia sebaiknya merendam kakinya dengan air hangat karena bekerja seharian tanpa henti.
Nenek bicara pada Pyo, bahwa bagaimanapun dia akan tetap sayang hwan, cucunya sampai mati.
Saat Hwan tertidur nenek ke kamar Hwan, dia mengompres kaki hwan dengan handuk hangat.

Seung Mi pulang dalam keadaan sedih, ibunya heran. Tadi selama di jalan Hwan tidak bisa menjelaskan apa-apa padanya.Seung Mi menangis semalaman dia sangat takut Hwan mulai berpaling. Saat bangun pagi dia pun malas sarapan.

Hwan bangun pagi dan merasakan kakinya tidak sakit atau pegal-pegal. Hwan merasa Eun Sung mengada-ada. Di rumah Jung mulai berubah dia ingin meniru-niru Eun SUng. pagi-pagi Jung menyapa orang-orang rumah seperti Eun Sung. Semua heran terutama ibunya yang takut anaknya stress.
Eun Sung pergi dengan sepedanya menyusul Hwan yang sedang berjalan kaki. Hwan heran karena Eun Sung tidak naik bus.
“Aku akan meninggalkan sepedaku di stasiun, lalu naik kereta. ongkos lebih irit 1200 won dan juga sekalian berolahraga”
“Kamu ini memang terobsesi dengan uang!”
Dia menyarankan Hwan juga membeli sepeda dengan uang gajinya karena dia sekarang tidak boleh naik mobil.

Baek Sung Hee menelepon Oh Yong Ran, dia kecewa karena Eun Sung ternyata tidak jadi diusir dari rumah itu.Oh Yong Ran berkata nenek terlalu pandai berkata-kata sehingga akhirnya dia pun tidak bisa menolak nenek.
Ayah eun sung mencari Sung Hee, dia curhat ingin bisa menghubungi Eun Sung karena email eun sung sudah tidak aktif. Sung Hee ingat saran Seung Mi agar ibunya memodali ayah tirinya sebuah toko di luar Seoul. Sung Hee membujuk Go Pyung Jung agar mau keluar dari Seoul demi Eun Sung dan mereka (demi dirinya sendiri kalee). Sung Hee berjanji akan mengongkosinya, memberinya tempat dan modal.

Walau acara ulang-tahun restoran sukses. Hwan dan Eun Sung masih bertugas untuk menyebar leaflet promosi ke tempat-tempat umum. Setumpuk leaflet dimasukkan ke dalam keranjang sepeda Eun Sung. Hwan menyindir Eun Sung yang suka sekali bersepeda. Eun sung menyarankan Hwan memakai sepeda Boss tapi Hwan tidak sudi, dia memilih naik bis.
Mereka berlomba menempel leaflet ke rumah-rumah. Awalnya Hwan kalah karena tidak membawa lem.

Mereka bertemu lagi di suatu tempat. Eunsung mengajak Hwan istirahat sebenetar. Uang jalan mereka terbatas, Eun Sung membelikan eskrim dobel. Eun Sung memaksakanya agar tidak malu makan eskrim dipinggir jalan. Hwan akhirnya mau, mereka membagi eskrim itu menjadi 2.
Sambil makan eskfrim di bangku pinggir jalan Hwan menanyakan tentang Eun woo pada Eun Sung. Dia berkata Eun SUng tak perlu khawatir, Nenek orang yang menepati janji, dia pasti menemukan Eun Woo (duh mulai baik nih aanak)
Hwan juga bilang walau awalnya dia sempat kesal tidak menemui Eun Sung, sebenernya pada “hari itu” jam 5 sore dia benar datang untuk menukar tas mereka (ketika eun sung dapat kabar ayahnya meninggal).
“Aku menunggumu sampai 40 menit”, ujar hwan
“Oh ya, kenapa kau tak pernah bilang padaku?”,kata Eun SUng (rupanya Hwan tidak sejahat yang dia kira)
“Apa orang sepertimu mau memaklumi?!”
Eun Sung lalu berkata mengapa Hwan tidak mencoba untuk tersenyum dan tertawa seperti di panti jompo.
“Tersenyum itu membawa nasib baik”, kata Eun sung

Mereka sempat berdiskusi cara menaikkan penjualan. lalu Hwan mengajak Eun Sung bekerja lagi. Eun Sung meminta ijin untuk mengganti plester di kakinya. kaki Eun Sung rupanya lecet.
“Bagaimana kamu bisa bekerja dengan kaki seperti itu?”, kata hwan
“Tidak apa-apa”, kata Eun Sung sambil menaiki lagi sepedanya.
Hwan tak tega, lalu dia memegang tangan Eun Sung, mencegah Eun Sung naik sepeda.
Hwan akhirnya naik sepeda dan membonceng Eun Sung. Saat Hwan tidak hati-hati dan sepeda mereka terguncang, Eun Sung memeluk Hwan dengan erat. Jantung Hwan sepertinya berdesir. Selanjutnya Eun Sung tak ragu lagi menaruh tangannya di pinggang hwan.

Sampai di dekat restoran, hwan sadar, dan turun dari sepeda .
“Sana, kau bawa sepeda sendiri sepedamu!”, Hwan mulai jaim lagi
“Siapa yang memintamu membawa sepedaku?!”, Eun Sung bersungut-sungut.

Ternya Seung Mi sedang menunggu Hwan di dekat restoran. Dia melihat dengan cemburu hwan dan Eun Sung berboncengan berdua dengan mesra.

Maager dan staff restoran heran Eun Sung dan Hwan datang bersamaan.
“Aku pikir kalian menyebarkannya berpisah. Dulu memang aku pernah meminta Hwan mengikuti Sup. Eun Sung agar tau caranya”, manager berkomentar
“Sepertinya kita jadi terbiasa melakukannya bersama-sama”, kata Eun Sung malu.
Mereka berpikir ini menarik karena dulunya mereka selalu bermusuhan.

Seung Mi masuk dan langsung mengajak hwan pulang bersama.
“Kita jalan yuk. Kita nonton”, Seung Mi sengaja berkata di depan Eun Sung.
Hwan sempat ragu, tapi Seung Mi membujuknya dan menggandeng tangan Hwan di depan Eun Sung.
Eun Sung tiba-tiba gugup, pikirannya kosong.

Hwan sempat mampir ke toko buku membeli beberapa buku tentang bisnis. Dia pun tidak berani mengajak Seung Mi ke restoran mahal. (bener lbh baik uangnya buat beli buku dari pada foya-foya).
Hwan pulangnya larut, dia menyapa nenek(yang masih jaim). Dia meminta nenek beristirahat dan mengkhawatirkan kesehatan nenek.
(beberapa hari yang lalu nenek akhirnya bercerita dulu dia sempat terbentur sampai lupa ingatan dan Eun Sung lah satu-satunya yang mendampinginya)
“Apa benar kepala nenek tidak apa-apa. Apa pernah general check up setelah kejadian itu?”
Hwan lalu naik ke kamarnya.
Pyo berkomentar bahwa kali ini Hwan berubah, dia lebih dewasa.

Lee Hyun Jin (mantan pacar Eun Sung) berterimakasih pada Jun se karena membawa ayah eun sung bekerja di proyeknya .
“Ternyata dia itu profesional”, kata Hyun Jin
“Orang yang menolong orang akan mendapat balasan yang baik”
Go Pyung jung menelepon Jun Se, dia ingin bertemu. Di sana Go Pyung Jung ingin berpamitan pada Jun se bahwa dia akan meninggalkan Seoul.

Hwan dan Eun SUng mulai tugas luar lagi. Kali ini mereka memisahkan diri. Tapi rupanya mereka dapat ide yang sama untuk memasukkan proposal ke tempat yang sama. karena sama mereka ditolak.
Hwan ternyata mencari data dan menyelidiki tempat yang akan dia kunjungi lewat internet. Mereka juga mendapat ide tempat-tempat lainnya. Eun Sung tidak menyangka ternyata hwan lebih pandai darinya.

Sampai di restoran Jun Se sudah menunggu Eun Sung, Dia menaikkan sepeda Eun Sung ke mobil. Hwan hanya melihat saja. Di taman Jun Se menerangkan pada Eun Sung bahwa keluarga Hwan masih bisa mendapat sebagian warisan jika nenek meninggal. Sebagai keluarga mereka bisa mengklaim ke pengadilan.

Hwan ke bar temannya. Dia heran melihat di depan bar ditulis “Piano Live”.
“Kamu ini memanfaatkan anak sepupumu sendiri!”
Temannya membela diri bahwa anak itu lah yang ingin bermain.
Eun Woo belum makan dia meminta bantuan Hwan memasakkan mie untuk anak itu. Temannya sibuk dan menitipkan Eun Woo pada Hwan.

Go Pyung Jung menelepon Sung Hee dan berkata dia bersedia ke luar kota. Sung Hee berjanji untuk bertemu di stasiun, dengan tiket, uang dan alamat.
Go pyung Jung siap berangkat dia di halte bis menuju stasiun. Dia melihat sebuah bis lewat, dan panasaran memperhatikan seorang gadis dalam bis. Ketika gadis itu menoleh dia yakin bahwa gadis itu Eun Sung.
Go Pyung jung lari mengejar bis memanggil-manggil Eun Sung. Namun bisnya terus melaju.

sumber: nana-catatanku.blogspot.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: